Item terkait

Sabtu, 08 September 2018 14:42

64 Surfer Dari 12 Negara Siap Taklukan Ombak di West Sumbawa AMNT Pro 2018

Gelaran Surfing Internasional kembali hadir di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Sebanyak 64 peserta dari 12 negara siap menaklukan ombak di Surfing Sport Yoyo’s, Kecamatan Sekongkang yang memiliki ketinggian mencapai 3 meter itu.

Bertajuk West Sumbawa AMNT Pro 2018 diharapkan bisa mempromosikan wisata bahari Indonesia khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat hingga dikenal di dunia internasional.

"Total ada 64 Surfer. 51 pria dan 13 wanita. Mereka datang dari 12 negara mulai dari Ekuador, Hawai, Swedia, Jepang, Spanyol, Peru, Australia, dan tuan Rumah Indonesia khususnya dari NTB juga mengirimkan perwakilannya," ujar Sekretaris Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Ratna Suranti, saat jumpa pers di Kantor Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat Sabtu (8/9).

Kemenpar sendiri bekerjasama dengan World Surf League (WSL) menggelar kejuaran bertingkat QS 1000 man dan Women pro. Dengan digelarnya event ini diharapkan pemerintah daerah sadar betul dengan potensi wisata yang ada di daerahnya.

"Nantinya para surfer akan menjadi corong untuk promosi daerah ini. Ombaknya luar biasa. akan melakukan siaran langsung dan di blast ke seluruh surfer dunia," ujar Ratna.

Hal itu bukan hanya sekedar omongan belaka. Lantaran gelaran WSL yang belum lama ini digelar di Nias, Sumatera Utara mendapat apresiasi besar dari pengikutnya.

 

"Event WSL ini media valuenya sangat besar. Bisa dilihat saat Nias mencapai 3 juta penonton yang melakukan live streaming. Karena itu event ini sangat penting untuk pengembangan daerah terpencil karena ini lokasi di remote area," ujarnya.

Sementara itu, perwakilan World Surfing League (WSL) Tipi Jabrik mengatakan, event ini bisa mengenalkan potensi wisata dan ombak yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Seperti diketahui, lanjut Tipi Sumbawa Barat sendiri memiliki tiga spot surfing yang sudab terkenal di dunia.

"Ada Supersuck, Yoyo's. dan Scar Reef. Ketiga tempat itu memiliki karakter ristik ombak yang berbeda.  Ombak di Yoyo's menjadi salah satu yang terbaik karena tidak mudah pecah," katanya.

Pria yang tinggal di Bali itu punya mimpi besar menjadikan Indonesia sebagai destinasi pertama para surfer di Dunia.

"Target kita menjadi tujuan nomer satu surfing di dunia. 'Number one destination surfing in the world'. Mari semua masyarakat yang ada di KSB khususnya sama-sama menjaga lingkungan agar para surfer bisa berlama-lama tinggal di sini," ujarnya.

Dikesempatan yang sama Bupati Sumbawa Barat W Mussyafirin mengapresiasi gelaran surfing internasional yang ada si KSB meskipun di tengah-tengah duka yang ada di masyarakat akibat gempa Bumi beberapa lalu. 

" Di Tengah-tengah duka cita karena gempa bumi. Surfing ini memberikan motivasi tersendiri. dengan adanya kegiatan seperti ini termasuk puncak trauma healing. Kejadian alam harus kita waspadai nanmun jangan berlebihan," ujarnya.

"Kami juga berharap seluruh masyarakat untuk tetap menjaga pantai-pantai kita dengan tidak boleh membuang sampah sembarangan. Karena dengan hal itu wisman bisa hadir dengan rasa aman dan nyaman," tambah Bupati Mussyafirin.

 

Sementara itu Kepala Bidang Pemasaran Area II Regional III Kemenpar, Hendry Noviardi mengatakan, event surfing ini  dapat memacu semangat Pemda NTB, pemerintah Kabupaten dan industri pariwisata. Serta mempercepat program recovery destinasi pariwisata terdampak dan promosi pariwisata tidak terdampak di NTB.

 

"Gempa yang melanda Lombok dan NTB umumnya, telah membuat sejumlah infrastruktur rusak, tetapi sejumlah destinasi wisata masih terhindar dari gempa, sehingga masih aman untuk dikunjungi siapapun. Dengan adanya event ini kami berharap pariwisata Lombok dan NTB secara umum dapat segera bangkit," ujarnya.

 

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengatakan bahwa ada tiga hal strategis terkait dukungan promosi Kemenpar di event ini. Pertama, penggemar surfing ini adalah wisatawan mancanegara (wisman) yang kebanyakan berasal dari Australia. Mereka sudah menjadikan Bali sebagai the second home karena surfing. Mereka sudah familiar berselancar di ombak Kuta Bali.

 

“Market-nya sudah jelas, mereka sudah ke Bali. Sekarang tinggal diperkenalkan spot baru itu ke negaranya,” kata Arief.

 

Kedua, prinsip dalam sport tourism juga harus dipakai. Di event-nya sendiri, mungkin tidak besar direct impact-nya, tetapi dampak indirect-nya atau media value-nya pasti jauh lebih tinggi.

 

“Dari media value itulah opportunity baru terbangun. Kalau wisman sudah jatuh cinta, mereka akan datang lagi bersama keluarga dan rombongannya. Rata-rata sport tourism itu 60% menjadi repeater,” ujar Arief Yahya.

  • EN: EN
Scroll To Top