Item terkait

Sabtu, 24 November 2018 16:39

Berburu Bono di Teluk Meranti

Begitulah masyarakat Pelalawan, Riau, menyebutnya. Bono adalah ombak yang awalnya sangat menakutkan.

Khususnya, bagi warga di Teluk Meranti, Pelalawan. Namun, kondisinya berbalik. Bono justru kini sangat ditunggu. Bahkan wisatawan mancanegara rela datang ke Teluk Meranti hanya untuk mendapatkan Bono.

Bono tercipta akibat aliran arus sungai Kampar bertemu dengan aliran laut. Pertemuan itu menghasilkan ombak yang mengarah ke sungai. Menurut warga asli Teluk Meranti, Ali, dahulu ombak ini membuat warga sangat takut.

“Bahkan di beberapa tempat, Bono dulu disebut tsunami. Karena ombaknya yang sangat besar dan berlangsung beberapa jam. Bono memiliki siklus. Dan tidak tiap saat bisa ditemui. Ada waktu-waktu tertentu Bono sangat tinggi dan besar. Bahkan membuat air naik hingga ke rumah warga,” terang Ali sebelum acara Bono Surfing dimulai.

Lambat laun, warga mulai mengetahui siklus Bono. Bahkan, warga memanfaatkannya untuk bermain. “Oleh warga, Bono dimanfaatkan untuk Bekudo. Jadi, dengan menggunakan perahu mereka mencoba menaklukkan ombak. Mereka bermain dengan ombak,” tutur Ali menjelaskan.



Kebiasaan ini semakin berubah. Belakangan muncul para surfer. Kegiatan surfing mulai dilakukan. Wisatawan mancanegara juga mulai berdatangan. Anak-anak sekitar Teluk Meranti pun mulai akrab dengan surfing. Menaklukkan Bono menjadi kegiatan yang tidak bisa dihilangkan.

Wakil Bupati Pelalawan Zaderwan mengakui jika kini Bono sudah sangat bersahabat. Bono justru memberi dampak positif. Sebab, dikemas sebagai destinasi. Tepatnya destinasi sport tourism surfing.

“Dampaknya secara ekonomi sangat terasa. Buktinya, saat wisatawan mancanegara hadir Teluk Meranti ramai. Mereka menghabiskan uangnya disana untuk makan. Bukan hanya itu penginapan pun hadir di Teluk Meranti. Ini dampak yang luar biasa. Dampak dari hadirnya pariwisata,” papar Zaderwan.

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga Pelalawan Andi Yusfiandi, mengatakan, Bono tidak hadir setiap saat. Ada saat-saat tertentu ombak hadir demgan luar biasa.

“Makanya kita harus bisa membaca situasi. Kita harus sesuaikan waktu pelaksanaan dengan Bono. Termasuk memprediksi jam. Sebab, kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari pelaksanaan ini,” jelas Andi.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kementerian Pariwisata Masruroh, sangat senang dengan keberadaan Bono yang akhirnya dikemas menjadi atraksi sport tourism bernama Bono Surfing.

“Karena masyarakat dilibatkan secara aktif. Dan, dampaknya secara ekonomi juga bisa dinikmati langsung masyarakat. Tugas selanjutnya adalah membenahi aksesibilitas dan amenitas, agar wisatawan semakin nyaman disana,” paparnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik pelaksanaan event sport tourism. Sebab, selalu memiliki dampak positif.

“Kementerian Pariwisata selalu mendukung pelaksanaan sport tourism. Mengapa? Karena selalu berdampak positif terhadap perekonomian. Dan, masyarakat bisa menikmatinya secara langsung. Wisatawan pun biasanya datang berkelompok,” katanya.

  • EN: EN
Scroll To Top