Item terkait

Rabu, 21 November 2018 04:30

Pemburu Adrenaline Siap-siap Sambut Surfing Bono di FESTIVAL TAHUNAN BEKUDO BONO

Penggemar surfing dan pemburu adrenaline, segera bersiap. Karena Festival Bekudo Bono atau Surfing Bono akan kembali hadir. Event ini akan digelar 22-25 November 2018 di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Kampar adalah sungai yang panjang yang mengalir dari pegunungan Bukit Barisan di sebelah barat pulau Sumatera. Sungai mengalir deras di sepanjang pantai barat pulau itu, lalu berkelok-kelok di seluruh provinsi Riau, akhirnya mencurahkan air ke Selat Malaka, di pantai timur Sumatra.

Sepanjang jalurnya yang panjang, sungai tersebut terbelah menjadi dua cabang besar yang dikenal sebagai Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Kedua cabang ini kemudian bertemu di Langgar di Kabupaten Pelalawan, di muara Kampar. Di sini kedua cabang bergabung dengan banyak sungai lainnya sehingga Kampar menyalurkannya ke mulut sungai yang lebar. Pada setiap pasang, ombak tinggi dari laut terhempas dan bertemu arus hilir sungai Kampar. Dimana dua energi yang berlawanan bertemu, dan  apalagi, yang disebabkan oleh corong sungai, - gelombang pasang surut Kampar yang fenomenal terbentuk, mengalir deras di pedalaman, berguling ke lebih dari 60 km ke hulu sungai.

Gelombang pasang ini dikenal oleh masyarakat lokal dengan sebutan "Bono", yaitu  gelombang yang cepat dengan suara gemuruh keras pada kecepatan 40 kilometer per jam. Surfing di sungai bisa naik setinggi 4 sampai 6 meter, sekaligus menciptakan barrel yang disukai peselancar.

Setiap tahun, festival ini selalu menghadirkan upaya pemecahan rekor dunia untuk surfing terlama dan terjauh di sungai. Tahun lalu, rekor individu baru dibuat oleh James Cotton dari Australia. Dia berhasil berselancar selama 1,2 jam dengan jarak tempuh 17,2 km. Prestasi tersebut memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Steve King dari Inggris yang menempuh jarak 12,23 km dalam 1,6 jam.

"Bono sudah dikenal ke seluruh dunia. Aset pariwisata Bumi Lancang Kuning ini harus dikelola secara profesional menggunakan pendekatan POP (pre-event, on-event dan post-event) agar mencapai sasaran yang optimal," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, Senin (12/11).

Menurutnya, gelombang Bono yang mencapai ketinggian 6 meter merupakan salah satu yang terbaik di dunia. mengalahkan gelombang Sungai Amazon Brasil. Keunikan wisata minat khusus dan olahraga petualangan gelombang Bono ini, telah dibuktikan oleh para surfer dunia.

"Jadi spot surfing sungai ini di dunia hanya dua. Salah satunya ada Bono Pelalawan. Indonesia bangga akan hal itu," tukasnya.

Kegiatan wisata dan olahraga ekstrem itu berisi beragam kegiatan mulai dari lomba memancing, berselancar hingga pergelaran budaya lokal dan bazar.

"Bono sudah sangat dikenal. Dan, sudah dijadwalkan oleh asosiasi surfer dunia, kapan puncak gelombang Bono. Ini salah satu produk destinasi yang luar biasa,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Fahmizal Usman.

Saat puncak Bono, ketinggian gelombang dapat mencapai tiga meter. Walaupun saat Bono kecil, peselancar masih bisa saja berselancar. ”Seperti Kuta saja, saat ombak kecil masih bisa, tapi untuk pemula,” terangnya. Dia mengatakan, Surfing Bono yang dipusatkan di Kelurahan Teluk Meranti, membawa keuntungan bagi masyarakat. Sebab, dengan banyaknya wisatawan yang datang, desa kecil tersebut kini ramai pengunjung dan rumah-rumah warga berubah menjadi "homestay". "Karena penginapan yang ada tidak bisa menampung ribuan wisatawan datang. Usaha kuliner juga mendapatkan imbasnya," sambungnya.

Surfing Bono merupakan atraksi andalan Provinsi Riau. Sudah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata sebagai salah satu top 3 event di Riau. Surfing Bono masuk Calendar of Event bersama-sama dengan Festival Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi dan Ritual Bakar Tongkang di kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir.

Untuk mencapai Teluk Meranti, seseorang perlu terbang ke Pekanbaru, ibu kota daratan Riau, dari Jakarta atau Medan. Dari bandara Pekanbaru dibutuhkan sekitar 5 sampai 6 jam perjalanan dengan mobil untuk mencapai Teluk Meranti. Di sini, penduduk setempat membuka rumah mereka sebagai akomodasi bagi pengunjung. Meski sederhana, tapi kenyamanan dan juga kebersihan tetap terjaga.

Sumber : Sibruhtinta/KEMENPAR

  • EN: EN
Scroll To Top