Item terkait

Senin, 16 Desember 2013 00:33

Shaper lokal " Robi Hendra "

Ingin selalu berkontribusi untuk Surfing Indonesia adalah visinya

 

 

Salah satu shaper (orang yang membuat) Surfboard dari Indonésia yang akrab di panggil Robi. Ia lahir di Medan, Sumatra Utara lalu memutuskan untuk menetap di Bali. Dunia Surfing sudah tidak asing lagi baginya, surfing sudah dikenalnya saat masih kecil di Austrália. Menjadi bagian dari Surfing adalah salah satu visinya, itu mengapa ia masih bertahan hingga saat ini. Karena ia ingin membuktikan bahwa surfboard buatan Indonésia juga mampu bersaing dipasaran, produk buatan dalam negeri yang dibuat oleh orang pribumi juga berkualitas. Surfboard dengan gambar batik sudah ia produksi, customer yang menginginkan model ini tidak hanya dalam negri tapi juga turis dari luar negeri yang menyukai batik.

 

Ikuti selebihnya interview Pemburu Ombak dan Shaper Surfboard Robi Hendra.

 

P  : kenapa anda menyukai atau memilih surfing dari olahraga yang lain ?

Q : Saya memilih surfing, karena surfing tidka aisng bgai saya. Keluarga saya di Austrália sudah mengenalkan saya surfing sejak saya kecil. Classic Surf Company merupakan perusahaan keluarga saya. Di Austrália saya surfing, sekolah dan bekerja di Beron Bay, New South wales. Jadi surfing merupakan Basic saya hingga saat ini.

 

P  : Lalu siapa yang mengajari Anda surfing ?

Q : Saya diajari oleh keluarga saya di Austrália. Dulu pertama surfing saya meminjam papan milik Kim Bradly. Lalu saat itu saya dibuatkan papan dengan ukuran 6`0. Kim adalah teman baik, hingga saat ini masih menjadi inspirasi bagi saya.

 

P  : Bisakah anda ceritakan bagaimana anda bisa ke Bali ?

Q :  ini adalah pertanyaan yang sangat gampang dan mudah ditebak. Tentu saja saya ke Bali karena disini banyak laut, banyak surf spot. Laut di Bali selalu ada ombak. Saya ke Bali tahun 1989 lalu ke Austrália kemudian tahun 1994 saya ke Medan, dan tahun 1995 saya ke Bali lagi.  Bali menyediakan banyak spot untuk surfing, tidak sepeti Medan. Medan tidak memiliki ombak. Jadi Bali adalah tempat yang saya pilih untuk tetap dekat dengan surfing.

 

P  : Apakah anda berfikir untuk ke Austrália lagi ?

Q : Sepertinya tidak, menurut saya lebih baik di negeri sendiri.

 

P  : Bisakah anda ceritakan kenapa menjadi seorang shaper Surfboard ?

Q : Menjadi seorang shaper adalah salah satu tuntutan hidup, karena ini merupakan pekerjaan. Dulu saya bukanlah seorang shaper, menjadi seperti sekarang adalah dorongan dari teman-teman saya. Dulu surfboard masih langka dan mahal. Jadi menurut mereka, kenapa tidak kalau saya  ( orang Indonésia ) membuat surfboard sendiri. Saat itu sudah ada Shaper Indonésia yang lain seperti Hafi dan Saiti, kira ~kira itu tahun 2005. Saya menitipkan surfboard buatan saya di toko-toko, waktu itu saya dan teman~teman masih belum percaya diri memakai tulisan made in Indonésia. Karena takut dianggap tidak sebanding, dengan jam terbang dan selalu memperbaiki kekurangan sekarang saya percaya mampu bersaing.

 

P  : Untuk saat ini dimana saja distribusi Surfboard anda ?

Q :  Hingga saat ini saya masih konsen di Custo morder, jadi customer bisa meminta surfboard seperti apa yang mereka inginkan.

 

P : Menyimpulkan dari cerita anda, anda mengetahui sedikit banyak perkembangan surfing hingga saat ini. Apa pendapat anda dengan perkembangan surfing ?

Q : Surfing di Indonésia lebih baik dari 5 tahun yang lalu. Dari latihan khususnya, persaingan harga surfboard khususnya. Para surfer lebih hebat dari beberapa tahun yang lalu, karena sudah ada asosiasi dan lebih terarah, banyak surfer yang bertalenta khususnya Bali.

 

P  : Untuk Surfboard sebenarnya ada high seasonnya tidak ?

Q : Iya ada, Low season bulan Januari – Maret. Peak Season di bulan September – Oktober.

 

P  : Menurut anda, daerah mana yang masih kurang di Indonesia (yang memiliki spot) ?

Q  : Bengkulu, memiliki ombak yang bagus di Pantai Panjang, belum di eksploitasi.  Saya pernah surfing dengan Mukhlis, dengan surf spot 5 km tidak ada orang lain yang surfing selain kami. Di Bengkulu saat itu belum ada yang surfing. Kemudian Yogya dan Jawa Tengah, sebenarnya dari pada Jawa Barat, Jawa tengah lebih bagus dan lebih menjual. Jika Pemerintah daerahnya mau peka dan mau menerima orang luar khususnya untuk berinvestasi.

 

P  : Kesan tentang Surfing sejauh ini apa ?

Q : Saat surfing di Nias. Saat itu ada kejuaraan disana, Nias Open 1995. Selama 1 bulan saya surfing, fasilitas dan akomodasi sudah ada yang membiayai. Semua surfer berkumpul saat itu, bahkan international. Saya diberi surfboard dengan ukuran 7`2 dan 6´6. Itu adalah kompetisi besar yang pernah saya ikuti.  Saat itu saya masih mewakili Medan, semua orang bingung karena Medan tidak ada Ombak tapi kenapa ada surfer dari sana.

 

P  :Arti surfing dalam hidup anda ?

Q : Surfing adalah hobi saya, hobi dapat dijual menjadi sesuatu yang positif. Surfing untuk menghidupi keluarga saya, selain sehat surfing juga lifestyle. Dan tetap bangga menjadi shaper dan mengangkat produk dalam negeri (Indonésia).

 

P  : Apa visi kedepannya?

Q : Saya ingin berkontribusi untuk surfing Indonésia khususnya dalam pembuatan Surfboard, dengan bahan-bahan dari Indonésia, dan ingin membuktikan bahwa produk dalam negeri juga bagus.

 

Terimakasih telah meluangkan waktu untuk Pemburu Ombak dan Good Luck !!

Scroll To Top