Sabtu, 25 Oktober 2014 05:07

10 alasan tolak Reklamasi Bali

Akan muncul banjir itu adalah salah satu alasan

 


Penolakan reklamasi teluk Benoa ternyata tidak hanya didukung oleh area yang berdekatan, seperi warga Denpasar, Kuta dan Badung. Namun di Kelurahan Dauhwaru, Jembrana mereka memasang baliho. Berbeda dengan baliho penolakan serupa, baliho yang dipasang para pemuda dari Seka Teruna Sanjaya, Banjar Dauhwaru ini turut memaparkan dasar penolakan dan dampak apabila reklamasi terus dilakukan. Baliho yang dipasang di pinggir Jalan Ngurah Rai, Lingkungan Dauhwaru itu sengaja dipasang untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang melintas terkait dampak reklamasi bagi lingkungan. Penolakan tersebut berdasar atas kepedulian mereka terhadap lingkungan. Karena itu dalam baliho itu dituliskan 10 alasan mengapa para pemuda menolak reklamasi.

Sepuluh alasan tersebut sebagai berikut ini :
1. Akan muncul banjir, karena Teluk Benoa merupakan muara bagi sungai-sungai di Bali Selatan. Apabila muara itu tidak ada, bukan tidak mungkin terjadi banjir.
2. Hilangnya paru-paru kota, hutan mangrove di sekitar Teluk Benoa menjadi paru-paru kota dan jika ditebang, maka kualitas udara akan menurun.
3. Mengorbankan alam. Teluk benoa termasuk wilayah konservasi yang harus dilindungi.

4. Reklamasi teluk Benoa akan mengubah arus air laut sehingga memperparah abrasi pantai lain di sekitarnya.
5. Menambah krisis air di mana Bali Selatan sudah kekurangan air bersih hingga 7,5 miliar kubik per tahunnya, penambahan hotel di Bali Selatan membuat warga semakin kekurangan air.
6. Pembangunan fasilitas pariwisata di atas lahan hasil reklamasi jelas tidak stabil, ibarat gelas di atas tumpukan buku, lebih mudah hancur jika ada gempa apalagi tsunami.
7. Adanya ketidakseimbangan pembangunan di Bali, Bali Selatan sudah terlalu penuh dengan pembangunan pariwisata, ketika daerah utara dan timur tidak diperhatikan. Reklamasi Teluk Benoa hanya memperparah ketidakseimbangan pembangunan itu.
8. Penambahan hotel akan membuat tingkat hunian makin rendah, saat ini Bali sudah memiliki 90.000 kamar hotel, vila dan penginapan dengan rata-rata okupansi hanya 31-51 persen.
9. Sudah saatnya Bali serius menggarap pariwisata berbasis kerakyatan, bukan pariwisata massal yang hanya menguntungkan investor rakus yang ingin merusak alam Bali.
10. Ancaman gagal proyek besar seperti yang sebelumnya yang pernah dicanangkan. Banyak contoh rencana proyek besar di Bali, namun gagal seperti Taman Festival di Padanggalak, Bali Turtle Island Development (BTID) di Serangan, serta Pecatu Graha di Pecatu.

Maka 10 alasan tersebut yang mendasari para pemuda dan warga Jembara menolak reklamasi Teluk Benoa.

Scroll To Top