Item terkait

Sabtu, 14 Desember 2013 07:58

Petualangan Gemala Ke Raja Ampat Part B

Berpetualang dan berbagi kebahagiaan

 

Hi Sobat Pemburu Ombak, kita akan kembali mendengarkan kelanjutan cerita dari Gemala tentang perjalanannya ke Raja Ampat. Pada pagi selanjutnya AL dan teman-temannya mengadakan senam SKJ, mungkin kalian yang angkatan 80 dna 90-an pasti mengenal dengan SKJ ( Senam Kesejahteraan Jasmani) beberapa tahun yang lalu mulai dari SD, SMP dan SMA. Mereka memakai kostum dengan warna yang mencolok, ide yang bagus bukan? Untuk memulai hari dengan keceriaan.  Satu persatu teman sekamar AL mulai memamerkan busana 80's nya untuk SKJ di pagi itu. AL menagatakan ini sudah menjadi tradisi untuk trip Tamasya Hati melaksana SKJ di salah satu paginya, dengan kostum ekstrim. Semakin memalukan semakin baik. Karena Al tidakada persiapa untu senam ini, jadi ada salah stu temannya meminjamkan kostum untuk SKJ. Awalnya AL sangat malu dengan kostumnya, tapi setelah emngintip teman-temannya ternyata mereka mengenakan kostum lebih lucu. Saat melakukan SKJ mereka sangat ceria dan penuh tawa, seolah tidak malu-malu lagi. Al mnegatakan “ Puas deh olahraga sambil ketawa-ketawa, nggak pernah kebayang akan melakukan ini... di Raja Ampat! “

Setelah SKJ, Al kemudian bersiap untuk melakukan perjalanan dengan boat menuju teluk Kabui, teluk dengan pulau-pulau kecil menjulang. Salah satu primadona ditempat tersebut adalah batu pinsil, batu yang menjulang langsing, atau disebut juga mini Wayag, teluk yang terletak diantara Pulau Waigeo dan Pulau Gam ini memang luar biasa.

Meneruskan perjalanan dari Teluk Kabui,Al mengunjungi desa Wawiyai untuk melakukan baksos (Baksi Sosial). Jadi trip Al kali ini tidak hanya untuk jalan-jalan tapi juga memberikan bantuan semampunya kepada desa-desa disekitar penginapan. Penduduk Wawiyai menyambut dengan penuh semangat, apalagi anak-anaknya. Mereka tidak malu dan dengan senang hati mau berpose. Tujuan Al dan teman-teman  adalah mengajarkan pada anak-anak desa Wawiyai, bagaimana cara mencuci tangan dan menyikat gigi yang benar.

Untuk mencairkan suasana agar semakin ceria, maka diisi dengan permainan-permainan, mereka tampak bersemangat sekali untuk belajar, apalagi masing-masing anak mendapatkan satu bingkisan berisi sikat gigi, pasta gigi, dan gelas kecil untuk berkumur lengkap dengan tutupnya. 

Usai bermain dan belajar, malam harinya Al dan teman-teman menonton bersama film Garuda di Dadaku, yang pastinya akan menumbuhkan niat di beberapa anak untuk menjadi pemain bola professional. AL merasa terharu sekali melihat muka mereka yang penuh ceria.

Pada hari selanjutnya al menuju Wayag, salah satu pemandangan luar biasa, dapat diakatakan ini adalah jagoannya Raja Ampat yang telah terkenal ke seluruh dunia. Beberapa hal yang telah peringatkan yaitu memakai sepatu atau sandal gunung yang cukup terlindung karena kondisi permukaan karang yang tajam serta derajat pemanjatan yang mencapai 80 derajat, dan jangan lupa memakai celan panjang untuk melindungi kulit dari ganas nya karang-karang tajam nanti.

Perjalanan menghabiskan sekitar 3 atau 4 jam  untuk sampai tujuan. Ternyata ada 2 lokasi pendakian, lokasi lama dan baru, namun Al memutuskan untuk mencoba lokasi baru yang lebih dekat jarak menuju ke puncaknya, namun medan lebih keras karena tingkat derajatnya yang nyaris tegak lurus. Dengan usaha yang cukup sulit untuk menuju ke atas  tapi seimbang dengan hasil yang ia dapatkan karena pemandangannya yang luar biasa.

Usai pendakian dari Wayag mereka langsung melanjutkan ke Desa Kawe, desa yang memiliki dermaga super cantik dengan ikan-ikan disekitarnya. Bahkan ada Hiu hitam yang bebas berenang.  Penduduk desa tidak memburunya meskipun sirip hiu mahal harganya.

Raja Ampat adalah daerah pertama yang memberlakukan aturan larangan perburuan hiu. Top predator lautan ini sangat terancam keberadaannya. Setelah isu khasiat sirip hiu yang hingga saat ini tidak terbukti keampuhannya, yang ada hanyalah mengurangi jumlah hiu secara drastis. Wisata penyelaman hiu dapat mendatangkan turis dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu yang berkesinambungan.

Dan benar  adanya, di desa Kawe Al bisa melihat schooling Noci  yang sangat dekat di permukaan. Clown fish atau Nemo pun  dapat bermain-main dengan di kedalaman 60 cm.  Akhirnya dengan berat hati LA dan teman-teman harus meninggalkan  Kawe untuk menuju Bianci, salah satu kampung Muslim yang ada untuk menyerahkan sekadarnya bantuan berupa Al’Quran.  

Cerita dari al snagat menarik ya, tapi tidak smeua cerita ditutup dnegan hal-hal yang menyenangkan. Pada saat perjalanan pulang  Al mengalami masalah pada mesin boat, mereka harus rela diam di lautan selama  7 jam.  Naum semua dapat diatasi dnegan bantuan boat lain. Hal ini membuat Al dan teman-teman merasakan kebersamaan karena mereka harus berbagi minum dan makanan meski stocknya kurang mencukupi. Bagi Al ini sangat mengesan kan dan tidak akan terlupakan.  Semoga dengan cerita dari Gemala bisa membuka mata kalian bahwa Indonesia sangat mengagumkan dan benar-benar kaya akan keindahan alam lautnya.

Scroll To Top